The Power of Shodaqoh and Prayer :)
17 Jan 2012 Leave a Comment
Kisah Seorang Putri Sholihah yang Menakjubkan
Kisah seorang wanita yang bernama ‘Abiir yang sedang dilanda penyakit kanker. Ia mengirimkan sebuah surat berisi kisahnya ke acara keluarga mingguan “Buyuut Muthma’innah” (rumah idaman) di Radio Qur’an Arab Saudi, lalu menuturkan kisahnya yang membuat para pendengar tidak kuasa menahan air mata mereka. Kisah yang sangat menyedihkan ini dibacakan di salah satu hari dari sepuluh terakhir di bulan Ramadhan lalu (tahun 2011). Berikut ini kisahnya –sebagaimana dituturkan kembali oleh sang pembawa acara DR Adil Alu Abdul Jabbaar- :
Ia adalah seorang wanita yang sangat cantik jelita dan mengagumkan, bahkan mungkin tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kecantikannya merupakan tanda kebesaran Allah. Setiap lelaki yang disekitarnya berangan-angan untuk memperistrikannya atau menjadikannya sebagai menantu putra-putranya. Hal ini jelas dari pembicaraan ‘Abiir tatkala bercerita tentang dirinya dalam acara Radio Qur’an Saudi “Buyuut Muthma’innah”. Ia bertutur tentang dirinya:
“Umurku sekarang 28 tahun, seorang wanita yang cantik dan kaya raya, ibu seorang putri yang berumur 9 tahun yang bernama Mayaa’. Kalian telah berbincang-bincang tentang penyakit kanker, maka izinkanlah aku untuk menceritakan kepada kalian tentang kisahku yang menyedihkan….dan bagaimana kondisiku dalam menghadapi pedihnya kankerku dan sakitnya yang berkepanjangan, dan perjuangan keras dalam menghadapinya. Bahkan sampai-sampai aku menangis akibat keluhan rasa sakit dan kepayahan yang aku rasakan. Aku tidak akan lupa saat-saat dimana aku harus menggunakan obat-obat kimia, terutama tatkala pertama kali aku mengkonsumsinya karena kawatir dengan efek/dampak buruk yang timbul…akan tetapi aku sabar menghadapinya..meskipun hatiku teriris-iris karena gelisah dan rasa takut. Setelah beberapa lama mengkonsumsi obat-obatan kimia tersebut mulailah rambutku berguguran…rambut yang sangat indah yang dikenal oleh orang yang dekat maupun yang jauh dariku. Sungguh…rambutku yang indah tersebut merupakan mahkota yang selalu aku kenakan di atas kepalaku. Akan tetapi penyakit kankerlah yang menggugurkan mahkotaku…helai demi helai berguguran di depan kedua mataku.
Pada suatu malam datanglah Mayaa’ putriku lalu duduk di sampingku. Ia membawa sedikit manisan (kue). Kamipun mulai menyaksikan sebuah acara di salah satu stasiun televisi, lalu iapun mematikan televisi, lalu memandang kepadaku dan berkata, “Mama…engkau dalam keadaan baik..??”. Aku menjawab, “Iya”. Lalu putriku memegang uraian rambutku…ternyata uraian rambut itupun berguguran di tangan putriku. Iapun mengelus-negelus rambutku ternyata berguguran beberapa helai rambutku di hadapannya. Lalu aku berkata kepada putriku, “Bagaimana menurutmu dengan kondisiku ini wahai Mayaa’..?”, iapun menangis. Lalu iapun mengusap air matanya dengan kedua tangannya, seraya berkata, “Waha mama…rambutmu yang gugur ini adalah amalan-amalan kebaikan”, lalu iapun mulai mengumpulkan rambut-rambutku yang berguguran tadi dan meletakkannya di secarik tisu. Akupun menangis melihatnya hingga teriris-iris hatiku karena tangisanku, lalu aku memeluknya di dadaku, dan aku berdoa kepada Allah agar menyembuhkan aku dan memanjangkan umurku demi Mayaa’ putriku ini, dan agar aku tidak meninggal karena penyakitku ini, dan agar Allah menyabarkan aku menahan pedihnya penyakitku ini….
Keeseokan harinya akupun meminta kepada suamiku alat cukur, lalu akupun mencukur seluruh rambutku di kamar mandi tanpa diketahui oleh seorangpun, agar aku tidak lagi sedih melihat rambutku yang selalu berguguran… di ruang tamu…, di dapur…di tempat duduk…di tempat tidur…di mobil…tidak ada tempat yang selamat dari bergugurnya rambutku.
Setelah itu akupun selalu memakai penutup kepala di rumah, akan tetapi Mayaa putriku mengeluhkan akan hal itu lalu melepaskan penutup kepalaku. Iapun terperanjak melihat rambutku yang tercukur habis. Ia berkata, “Mama..kenapa engkau melakukan ini ?!, apakah engkau lupa bahwa aku telah berdoa kepada Allah agar menyembuhkanmu, dan agar rambutmu tidak berguguran lagi?!. Tidakkah engkau tahu bahwasanya Allah akan mengabulkan doaku…Allah akan menjawab permintaanku…!!, Allah tidak menolak permintaanku…!!. Aku telah berdoa untukmu mama dalam sujudku agar Allah mengembalikan rambutmu lebih indah lagi dari sebelumnya…lebih banyak dan lebih cantik. Mama…sudah sebulan aku tidak membeli sarapan pagi di sekolah dengan uang jajanku, aku selalu menyedekahkan uang jajanku untuk para pembantu yang miskin di sekolah, dan aku meminta kepada mereka untuk mendoakanmu. Mama…tidakkah engkau tahu bahwasanya aku telah meminta kepada sahabatku Manaal agar meminta neneknya yang baik untuk mendoakan kesembuhanmu??. Mamaa…aku cinta kepada Allah…dan Dia akan mengabulkan doaku dan tidak akan menolak permintaanku…dan Dia akan segera menyembuhkanmu”
Mendengar tuturan putriku akupun tidak kuasa untuk menahan air mataku…begitu yakinnya ia…, begitu kuat dan berani jiwanya…lalu akupun memeluknya sambil menangis…”.
Putriku lalu duduk bertelekan kedua lututnya menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya berdoa agar Allah menyembuhkanku sambil menangis. Ia menoleh kepadaku dan berkata, “Mama..hari ini adalah hari jum’at, dan saat ini adalah waktu mustajaab (terkabulnya doa)…aku berdoa untuk kesembuhanmu. Ustadzah Nuuroh hari ini mengabarkan aku tentang waktu mustajab ini.” Sungguh hatiku teriris-iris melihat sikap putriku kepadaku… Akupun pergi ke kamarku dan tidur. Aku tidak merasa dan tidak terjaga kecuali saat aku mendengar lantunan ayat kursi dan surat Al-Fatihah yang dibaca oleh putriku dengan suaranya yang merdu dan lembut…aku merasakan ketentaraman…aku merasakan kekuatan…aku merasakan semangat yang lebih banyak. Sudah sering kali aku memintanya untuk membacakan surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas kepadaku jika aku tidak bisa tidur karena rasa sakit yang parah…akupun memanggilnya untuk membacakan al-Qur’an untukku.
Sebulan kemudian –setelah menggunakan obat-obatan kimia- akupun kembali periksa di rumah sakit. Para dokter mengabarkan kepadaku bahwa saat ini aku sudah tidak membutuhkan lagi obat-obatan kimia tersebut, dan kondisiku telah semakin membaik. Akupun menangis karena saking gembiranya mendengar hal ini. Dan dokter marah kepadaku karena aku telah mencukur rambutku dan ia mengingatkan aku bahwasanya aku harus kuat dan beriman kepada Allah serta yakin bahwasanya kesembuhan ada di tangan Allah.
Lalu aku kembali ke rumah dengan sangat gembira…dengan perasaan sangat penuh pengharapan…putriku Mayaa’ tertawa karena kebahagiaan dan kegembiraanku. Ia berkata kepadaku di mobil, “Mama…dokter itu tidak ngerti apa-apa, Robku yang mengetahui segala-galanya”. Aku berkata, “Maksudmu?”. Ia berkata, “Aku mendengar papa berbicara dengan sahabatnya di HP, papa berkata padanya bahwasanya keuntungan toko bulan ini seluruhnya ia berikan kepada yayasan sosial panti asuhan agar Allah menyembuhkan uminya Mayaa”. Akupun menangis mendengar tuturannya…karena keuntungan toko tidak kurang dari 200 ribu real (sekitar 500 juta rupiah), dan terkadang lebih dari itu.
Sekarang kondisiku –Alhamdulillah- terus membaik, pertama karena karunia Allah, kemudian karena kuatnya Mayaa putriku yang telah membantuku dalam perjuangan melawan penyakit kanker yang sangat buruk ini. Ia telah mengingatkan aku kepada Allah dan bahwasanya kesembuhan di tangan-Nya…sebagaimana aku tidak lupa dengan jasa suamiku yang mulia yang telah bersedekah secara diam-diam tanpa mengabariku yang merupakan sebab berkurangnya rasa sakit yang aku rasakan.
Aku berdoa kepada Allah agar menyegerakan kesembuhanku dan juga bagi setiap lelaki atau wanita yang terkena penyakit kanker. Sungguh kami menghadapi rasa sakit yang pedih yang merusak tubuh kami dan juga jiwa kami…akan tetapi rahmat Allah dan karuniaNya lebih besar dan lebih luas sebelum dan susudahnya”
(Diterjemahkan oleh Firanda Andirja, semoga Allah menyegerakan kesembuhan bagi ukhti ‘Abiir)
www.firanda.com
Sajak Cinta
19 Nov 2011 Leave a Comment
in UnCaTeGoRiZed Tags: cinta sajak puisi
Ialah kau, yang selalu ada, jauh sebelum cahaya mengecup mata, jauh sebelum suara menyentuh telinga.
Selama kita masih ada di langit yang sama, mencintaimu adalah hal yang selalu mungkin!
Mungkin engkau ada, agar hidupku bisa lebih bahagia dari apa yang aku harapkan.
Mencintaimu, adalah pesta yang tak pernah selesai. Aku terus merayakannya, dengan kecupan, dengan pelukan
Ada yang selalu berdenyut di dalam nadi, itu engkau yang ada di dalam aku, dalam kehidupanku.
Aku mencintaimu, dari detik ke detik, detak ke detak, denyut ke denyut!
Kekasih, dengan mencintaimu, aku bisa tahu bagaimana cara yang benar, untuk mengisi hidupku.
Denganmu, aku merasa seperti terbaring di atas kertas, menjelma huruf-huruf, untuk puisiku sendiri!
karena memang hanya dengan menulis puisilah, satu-satunya caraku menemui dirimu, di kepalaku sendiri
Karena untukku, sajak adalah wadah untuk menampungmu, yang tumpah dari pikiranku.
Di taman itu, aku melihatmu tersenyum, meskipun kusadari, itu hanyalah taman yang kubuat sendiri, di puisiku sendiri.
Memelukmu adalah caraku berbicara denganmu, semacam bahasa baru, yang hanya bisa dipahami oleh debar jantungmu
Pelukanmu, adalah yang selalu kuingat, sebagai arah jalan pulang, ke tempat segala tenang.
Ingatan tentang pelukanmu adalah yang paling erat mengikat di pikiranku, bahkan lebih erat dari pelukan itu sendiri!
Seringkali aku merasa, jika dapat memelukmu adalah juga termasuk doaku yang terkabulkan.
Segala yg terjadi antara kau dan aku saat ini, adalah yang lebih baik, dari sekedar angan, dari sekedar ingin!
tak ada arah yang lebih baik dari mencinta, selain saling menguatkan, selain saling mendoakan
Tetaplah bersamaku, agar aku selalu memiliki sesuatu untuk kudoakan!
Aku tak ingin menjadi apa-apa, selain apa yang selalu kau pikirkan, selain apa yang selalu kau tuliskan!
ialah aku yang pernah kau pertahankan, sebelum waktu memudarkan. lalu berubah, menjadi hujan, menjadi hujan
Kita, sepasang yang ditelanjangi rindu. Sedangkan waktu, hanyalah baju.
by:
kharisma P lanang
@Karizunique
Surat Terbuka Untuk Para Pria
13 Sep 2011 Leave a Comment
Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian bukanlah tokoh romantis yang dapat melukis seperti Jack Dawson dalam Titanic
maka itu kami tidak pernah minta kalian melukis wajah kami dengan indah, paling tidak saat kami minta kalian menggambar wajah kami , gambarlah, meskipun hasil akhirnya akan seperti Jayko adik perempuan Giant dalam film Doraemon,
tapi kami tahu, kalian berusaha.
Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian bukan peramal seperti Dedi Corbuzier,
yang dapat menebak isi pikiran kami atau apa yang kami inginkan saat kami hanya terdiam dan memasang wajah bosan,
tapi saat itu kami hanya ingin tau, sesabar apakah kalian menghadapi kami jika kami sedang sangat menyebalkan seperti itu,
kami tidak minta kalian mampu menebak keinginan kami, setidaknya bersabarlah pada kami dengan terus bertanya “jadi sekarang maunya gimana?”
Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian bukanlah penyair sekaliber Kahlil Gibran
atau yang mampu menceritakan kisah romantis seperti Shakespear,
maka itu kami pun tidak meminta kalian mengirimi kami puisi cinta berisi kalimat angan-angan nan indah setiap hari atau setiap minggu,
tapi setidaknya mengertilah bahwa setelah menonton film korea yang amat romantis itu, kami sangat berandai-andai kekasih kami dapat melakukan yang sama,
meskipun isi puisi tersebut tidak sebagus kahlil Gibran, kami akan sangat senang –sungguh- jika kalian mengirimkannya dengan tulus dan niat. (bahkan meskipun ujungnya terdapat “hehe, aneh ya?”, kami akan benar-benar melayang, tuan)
Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian tidaklah setampan Leonardo Dicaprio,
tapi tolong mengertilah itu sama sekali bukan masalah bagi kami, saat kami memuja-muja pemuda seperti itu, itulah pujian dan pujaan, tapi hati kami sungguhnya telah terikat oleh kalian, tuan.
Mungkin saat itu kami hanya ingin tau apa pendapat kalian jika kami jatuh cinta pada orang lain, semacam mengukur tingkat kecemburuan kalian.
Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian tidaklah semenakjubkan John Nash atau sebrillian Isaac Newton,
namun kami sebenarnya sangat menghargai bantuan kecil dari kalian meskipun hanya membantu mencarikan artikel dari internet,
kami ingin menunjukkan pada kalian bahwa kalian lebih kami percayakan daripada Newton atau Galileo.
Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian tidaklah segagah Achilles pada film Troy,
maka itu kami tidak pernah minta kalian mengikuti program peng six-pack an tubuh atau kontes L-men.
Namun dengan kalian berhenti dan tidak pernah merokok, kami sangat akan memilih kalian dari Achilles manapun.
Menyuruh kalian berhenti merokok adalah untuk meyakinkan diri kami bahwa kalian lebih gagah dari Achilles (karena tentu kalian akan kalah beradu pedang dengan Achilles bukan?).
Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian bukan Pangeran dengan kuda putih yang akan melawan naga demi kami, karena kami pun bukan putri tidurnya,
dan maka dari itu kami tidak pernah minta kalian melawan preman pasar yang pernah menggoda kami waktu lalu,
tapi setidaknya, mengertilah tanpa kami harus minta,
saat hujan lebat datang dan dirumah sedang mati lampu dan ayah ibu belum datang, kami hanya dapat mengandalkan kalian,
maka itu temani kami walau hanya dengan sms dan telepon, karena menurut kami, berbincang dengan kalian adalah melegakan,
maka itu jangan tukar keadaan seperti itu dengan Game PES 2010 terbaru kalian itu (sangat mengesalkan!)
Kami, para wanita sungguh sebenarnya tau bahwa kalian bukanlah bayi yang harus diingatkan hal ini dan itu setiap waktunya,
tapi mengertilah bahwa kami sangat merisaukan anda, kenapa kami mengingatkan kalian makan atau sembahyang, itu karena tepat saat itu, kami baru saja hendak makan atau sembahyang,
maka itu saat kalian bertanya kembali atau mengingatkan kembali, kami akan jawab “iya, bentar lagi nih”
Kami, para wanita tau kalian bukanlah Romi Rafael yang pandai menyulap saputangan menjadi bunga,
maka itu kami tidak pernah meminta hal hal semacam itu, namun mengertilah bahwa melihat bunga rose di pinggiran jalan itu menggoda hati kami, bahkan meski kami tidak suka bunga, pemberian kalian akan menjadi hal yang kami sukai,
karena kami sebenarnya hanya sangat ingin menyimpan kalian saat itu, setelah malam kalian antar kami pulang,
namun kami tahu kita harus berpisah saat itu.
Kami, para wanita tau kalian bukanlah Mr. Bean yang dapat membuat kami tertawa terbahak saat sedang bosan,
maka itu jangan coba-coba menjadi juru selamat untuk mencoba membuat kami tertawa saat itu,
karena kami tau kalian tidak mampu sekocak Mr. Bean dan malah hanya akan memperkeruh suasana,
yang kami inginkan saat itu hanyalah memastikan kalian ada disamping kami saat masa-masa sulit meski hanya dengan senyuman menenangkan.
Kami, para wanita juga tau kalian bukanlah pemuda seperti Edward Cullen yang akan segera datang dengan Volvo saat kami diganggu oleh preman jalanan,
namun setidaknya, pastikan kami aman bersama kalian saat itu dengan tidak membawa kami pulang terlalu larut dan mengantarkan kami sampai depan pintu rumah dan bertemu ayah ibu, (jangan hanya sampai depan gang, hey, tuan!)
Kami, para wanita tau kalian tidak akan bisa seperti ibu kami yang dapat menghentikan tangisan kami,
namun tolong mengerti, saat kami menangis dihadapanmu, kami bukan sedang ingin dihentikan tangisannya,
justru kami sangat ingin kalian dihadapan kami menampung berapa banyak air mata yang kami punya,
atau sekedar melihat apa reaksi kalian melihat kami yang –menurut kami- akan terlihat jelek saat menangis
Kami, para wanita tau juga sebenarnya, bahwa kalian tidak akan punya jawaban yang benar atas pertanyaan, “aku gendut ya?”, kami sungguh tau,
tapi saat itu kami hanya ingin tau, apa pendapat kalian tentang kami yang pagi tadi baru bercermin dan sedang merasa tidak secantik Kristen Stewart.
Kami tau, kalian adalah makhluk bodoh yang tidak peka dan terlalu lugu untuk percaya pada setiap hal yang kami katakan,
tapi mengertilah bahwa saat kalian bertanya “baik-baik aja?” dan kami jawab “iya, aku baik-baik aja”
itu adalah bahasa kami untuk menyatakan keadaan kami yang sedang tidak baik namun kami masih menganggap kalian adalah malaikat penyelamat yang mampu mengatasi ketidak-baik-baikan kami saat itu tanpa kami beritau,
(tentu mestinya kalian sadari jika kami memang benar sedang baik-baik saja kami akan menambahkan perkataan seperti “iya aku baik-baik aja, malah tadi aku di kampus ketemu dengan dosen yang itu lho….*bla.bla.bla”)
Iya, kami sepertinya tau apa yang kalian pikirkan tentang kami yang begitu merepotkan.
Tapi begitulah kami, akan selalu merepotkan kalian, tuan. Hal ini bukan sesuatu yang kami banggakan, namun inilah bahasa kami untuk mempercayakan hati kami pada kalian,
jika kalian bukanlah pemuda yang kami percayakan dan kami butuhkan, tentu saja yang kami repotkan dan persulitkan bukan kalian.
Kami makhluk yang amat perasa dan gampang merasa “tidak enak”. Kami enggan merepotkan “orang lain”.
Jika kami merepotkan dan menyusahkan, berarti kami menganggap anda bukanlah orang lain, tuan.
Kami tidak senang bermain-main, tuan pemuda.
Maka tolong jaga hati yang kami percayakan ini. Kami mungkin mudah berbesar hati atau “geer”,
tapi sekali kami menaruh hati kami pada satu pemuda, butuh waktu yang lebih lama dari menemukan lampu bohlam untuk menghilangkannya (bukan melupakan).
Kami akan sulit menerima hati baru setelah itu, karena kami harus membiasakan diri lagi.
Padahal kami sudah terbiasa dengan anda, terbiasa melakukan semuanya dengan anda.
Maka tolong, mengertilah tuan. Karena kami, wanita sungguh sangat tau sebenarnya kalian, pemuda, dapat mengatasi semua tingkah kami yang merepotkan ini.
Allah Maha Baik
22 Jul 2011 1 Comment
Huffff, akhirnya mengumpulkan mood, tenaga, semangat dan motivasi untuk nulis di Blog lagi, hehehe…
TIME FLIES SO FAST
Yap, akhir-akhir ini dikejutkan oleh beberapa berita yg mengejutkan. Dan membuat saya menyadari, ah…tak terasa waktu begitu cepat berlalu, dan banyak hal yg berubah.
Saya pun jadi berkontemplasi, merenungi kisah perjalanan hidup saya dari waktu ke waktu……….
Saya pernah mengutuki diri saya sendiri, saya pernah terjatuh begitu dalam, saya pernah berada pada titik terendah saya, dan semua itu membuat saya pernah marah pada Allah, meratapi nasib saya, mengasihani diri saya sendiri….
Tanpa berpikir panjang lagi saat itu, bahwa Allah pasti sangat menyayangi saya, dan punya rencana yg jauh lebih indah dari yg pernah saya bayangkan….
Dan kini, saya maluuuuu….sangat malu…
menyadari betapa Allah sungguh Maha Baik pada saya…
Satu per satu mimpi lama saya yg pernah tersebut dalam hati saya telah terwujud.
Betapa Allah Maha baik, sungguh…
Hampir semua impianku terwujud, yg sepertinya dulu rasanya tak mungkin jadi nyata. Tapi skarang? smua mimpi itu bnr2 tergapai oleh saya, ada di depan mata saya sendiri.
Allah sungguh Maha Baik…
mungkin saya memang harus melewati jalan yg berliku, penuh duri, penuh lumpur, terseok-seok hingga akhirnya saya dapat menikmati mimpi2 indah saya, bahagia…
Kalo tidak melewati semua tantangan itu mungkin akan lain ceritanya, mungkin mimpi saya bisa jadi taksatupun yg terwujud…
Dan inilah mimpi besarku yg terucap di hati kecil saya dulu:
-SATU-
(Sebuah percakapan kecil dg seorang teman kuliah, stelah panjang berdebat, di akhir percakapan)
TemenRiri: Gw doain lo ri ditembak cowok ganteng yg bikin lo ga bisa nolak
Riri: *senyum*(dalam hati) Semoga orangnya itu adalah lo
Alhamdulillah ternyata teman saya ini yg skrg menjadi suami saya =) *tersipumalu*
-DUA-
(ngobrol-ngobrol santai bersama keluarga beberapa hari stelah menggelar resepsi kakak saya)
Riri: Capek juga ya ma kalo bikin resepsi di rumah, rumah berantakan, kotor, dll. Capek ngeberesinnya, ga bisa istirahat abis resepsi
Mama: yah, gimana lagi kalo di gedung kan mahal
Riri: Riri nanti kalo nikah mau di gedung aja ah *ketawa2* *asalngomong* *ngayal*
Mama: Yaudah makanya nanti abis lulus kerja dulu, ngumpulin duit biar bisa di gedung
Riri: Sipppp insya Allah
Alhamdulillah tanpa saya harus bekerja dan nabung berbulan-bulan saya bisa menikah di gedung =)
-TIGA-
(Masih di ruang keluarga, dilain waktu, ngobrol2 santai ngomongin harta gono-gini *cumabercandaan*)
kakak: nanti rumah mama yg sekarang jadi punya ade, lantai 2 ditempatin ka Ana, tanah yg dibelakang rumah buat ka Fifa
Riri: *langsung nyeletuk* kalo riri punya rumah sendiri dong di perumahan elite, hehehe
Sekeluarga: *dengankompak* huuuuuuuu, mimpiiiiii…!!!1
Riri: *terkekeh-kekeh* *langsungngeloyorpergi*
Alhamdulillah, sekarang punya rumah di sebuah perumahan yg dulu saya pernah impikan tanpa harus banting tulang nyari duit buat beli rumah
Dan masih banyak lagi mimpi2 saya…
Ini bukan soal mimpi materi semata, lebih dari itu, ini tentang mimpi2 saya yg kadang asal ceplos, sebersit mimpi yg hanya angin lalu, mimpi yg saya sendiri tak pernah membayangkan bisa terwujud….
Betapa Allah Maha Baik pada saya…
Diberikan suami yg sholeh, perhatian, pengertian,setia dan sabar =)
Diberikan rezeki yang berkecukupan =)
Diberikan keluarga besar yang utuh dan penuh perhatian =)
Diberikan kebahagian dan nikmat yang tiada tara =)
Alhamdulillah, terimakasih ya Allah, Engkau sungguh Maha Baik…
Ampuni hamba yg kadang lupa untuk bersyukur pada-MU….
Untukmu, suamiku =)
20 May 2011 Leave a Comment
Suamiku…
Bila dipandang tak menyakiti
Bila dilirik, manis sekali,
Bila tertawa ada yang menemani,
Bila menangis ada yang menaungi,
Wahai suami.. Datanglah.. Masuklah dalam rumah bilik yang indah ini, Walaupun tak berharta, tetapi menentramkan hati..
Wahai suami.. Marilah kubukakan sepatu dan pakaianmu, Walaupun tangan- tangan ini tak selembut bidadari, tapi mudah-mudahan dapat melonggarkan jasmani..
Wahai suami.. Minum dan teguklah air jernih ini, Mungkin tak sesegar air pegunungan tapi dapat melenyapkan dahaga.. dan akan terasa manis meski tanpa gula Insya Allah…
Wahai suamiku..
mari kutemani engkau makan, Mungkin makanan ini tak selazat seperti direstoran-restoran mahal dikota, tapi kebaikan dan kehalalannya telah teruji.. Insya Allah…
Wahai suamiku..
Bila sakit hati menerpamu, Berilah ampun pada diri ini, Tanpa ampunan mu, sengsaralah diri ini.. Berjuta-juta Malaikat mengutuk ku tanpa henti ..
Wahai suamiku..
Bila pedih menghampirimu.. Marilah… rebahlah dalam bahuku ini letakkanlah kepalamu disisiku, menangislah.. mudah2an bahu kecil ini dapat meringankan kepedihanmu..
Wahai suamiku..
Bila marah menerjangmu, Pandangilah diriku, kutundukan mata ini seraya meminta ampunan dari mu..
Wahai suamiku,
Jika kau berikan harta kepadaku, Alhamdulilah, seraya berucap pada AllahuRabbi, berkatilah rezeki ini dan cukupkanlah hamba atasnya..
Wahai suamiku,
Jika kau nyatakan kesulitan di hadapanku.. Ingin secepatnya ku peluk dirimu, seraya berkata, jangan sedih suamiku, Mari kita ringankan kesulitan itu… Setelah kesulitan pasti ada kemudahan..
Wahai suami ku..
Apapun yang kan kulakukan, asalkan jalan pada Allah yang sebenarnya, Ridha mu mempermudah Ridha Allah pada ku, Surgaku ada di bawah naunganmu..
Peganglah erat-erat tangan ini, umpama tangan ini tercipta untuk membantumu.. Tataplah mata ini seraya menyajikan lautan kedamaian.. Bawalah diriku kemana kau tuju.. Sertakan diriku disetiap langkahmu.. Kepada Allah lah kita menuju.. Ampunilah aku suamiku……
Terima kasih… suami ku… atas Cinta mu… kasih mu… sayangmu… pengertianmu…. semangat dan dukungan mu untukku menjalani hari – hariku… Sepi ku menjadi riangku bersamamu
with to much Love….
Hukum Sebab-Akibat
30 Mar 2011 Leave a Comment
Entah kenapa saya tipe orang yg gampang skali terpancing ketika mendengarkan cerita, menonton film, ataupun membaca novel. Saya akan dgn mudah terbawa alur cerita dgn sgala emosi yg dituangkan dlm cerita tersebut.Terakhir, saya membaca novel-nya Tere-liye dg judul Rembulan Tenggelam di Wajahmu (Highly recommended-red). Ada kutipan yg sangat menarik dari novel tersebut:
“Kita bisa menukar banyak hal menyakitkan yang dilakukan orang lain dengan sesuatu yang lebih hakiki, lebih abadi. Rasa sakit yang timbul karena perbuatan aniaya dan menyakitkan itu, sementara. Pemahaman dan penerimaan yang tulus dari kejadian menyakitkan itulah yang abadi.”
Sepanjang saya membaca cerita novel ini. Saya selalu melakukan proyeksi dan intropeksi dari cerita tersebut ke dalam kehidupan nyata saya. Betapa saya pernah menjadi tokoh utama dalam novel tersebut. Yah, saya pernah merasakan sakit yang teramat-sangat, sampai saya merasa hidup ini tidak adil untuk saya. Saya pernah merasa hancur, sehancur-hancurnya sampai-sampai saya berani menyalahkan takdir saya. Saya pernah bgitu membenci dan mengutuk orang2 yg menghancurkan kebahagian saya. Dan saya pernah memiliki beribu tanya kepada Allah tentang hidup saya, yg terus berputar-putar di pikiran saya, seribu tanya yang saya tak pernah tahu apa jawabannya, pun sampai sekarang.Dan sampai pada pertengahan cerita novel ini, saya pun mengerti, memahami, menerima, dan membenarkan pernyataan yang merupakan kiutipan dalam novel tersebut:
“Bagi manusia, hidup ini sebab-akibat. Bedanya, bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis hidup orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian entah pada siklus yang ke berapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu. Saling mempengaruhi, saling berinteraksi. Sungguh kalau dilukiskan peta itu, maka ia bagai bola raksasa dengan benang jutaan warna yang salit melilit, saling menjalin, lingkar-melingkar. Indah. Sungguh indah. Sama sekali tidak rumit.”
Sehingga saya menyadari bahwa segala hal yang pernah saya alami, khususnya rasa sakit di masa lalu, merupakan akibat yang harus saya rasakan dari tindakan menyakitkan yang pernah saya lakukan kepada orang lain.Dan sgala hal yang saya lakukan di masa lalu, sekarang, esok hari, dan seterusnya akan menjadi sebab yang akibatnya akan kembali lagi kepada saya, walau saya takkan pernah tahu potongan kisah dari sebab yang mana yang akan berakibat pada kehidupan saya.Pada akhirnya, saya memang harus memahami dan menerima dengan tulus dari sgala hal menyakitkan yang pernah saya alami. Bukan untuk orang lain, tapi untuk saya sendiri.
“Hampir semua orang pernah kehilangan sesuatu yang berharga miliknya, amat berharga malah. Dalam ukuran tertentu kehilangan yang kau alami mungkin jauh lebih menyakitkan. Tetapi kita tidak sedang membicarakan ukuran relatif lebih atau kurang. Semua kehilangan itu menyakitkan.Apapun bentuk kehilangan itu, ketahuilah, cara terbaik untuk memahaminya adalah selalu dari sisi yang pergi. Bukan sisi yang ditinggalkan.Kalau kau memaksakan diri memahaminya dari sisimu, maka kau akan mengutuk Tuhan, hanya mengembalikan kenangan masa-masa gelap itu.Bertanya, apakah belum cukup penderitaan yang kau alami. Bertanya, mengapa Tuhan tega mengambil kebahagiaan orang-orang baik, dan sebaliknya memudahkan jalan bagi orang-orang jahat.Kau tidak akan pernah menemukan jawabannya, karena kau dari sisi yang ditinggalkan. Sehinnga kau tidak akan pernah bisa berdamai dengan perasaan kehilanganmu”
Life must go on. Hidup akan terus berjalan.
Maka, berdamailah dengan masa lalu, maafkan, lupakan. Bagi saya, tetap ada yg harus disesali, kesalahan yg pernah saya lakukan di masa lalu, yang selanjutnya menjadi pembelajarn buat saya di masa depan untuk tidak lagi mengulanginya. Jalan memandang ke depan, sesekali menengok ke belakang. Untuk kemudian memilih arah hidup yang akan kita tempuh… =)
“Kalian mungkin memiliki masa lalu yang buruk, tapi kalian memiliki kepal tangan untuk merubahnya. Kepal tangan yang akan menentukan sendiri nasib kalian hari ini, kepal tangan yang akan melukis sendiri masa depan kalian”
-SEKIAN-
…CINTA…
21 Mar 2011 Leave a Comment
Cinta menurutku tak berwarna
ia menjadi jingga
sebagaimana kau memaknainya
ia pun menjadi kuning, biru, dan merah
sebagaimana kau menginginkannya
cinta bagiku
tak ubahnya kumpulan narasi
tentang kejujuran dan keberanian
tentang kemarahan dan kasih sayang
cinta adalah lukisan yang unik
dan tak terkatakan
sebab ia menenggelamkan kita
pada angan-angan dan mimpi yang abadi
dan cintaku padamu
adalah surga yang tak bisa kumasuki
jika tanpamu…….
Sudahkah Saya Menjadi Bidadari Bagi Suami Saya?
25 Feb 2011 2 Comments
“Aku rasa istriku adalah karunia terindah yang Allah berikan kepadaku…Saat di dalam rumah, ia selalu berusaha memanjakanku. Kebutuhanku selalu dia penuhi sebelum dirinya. Saat aku pergi meninggalkan rumah, tak ada gelisah atas anak-anak dan hartaku. Aku percaya dia tidak akan menelantarkan mereka. Aku yakin ia akan senantiasa menjaga kehormatan diri dan keluarganya.
Saat aku di tempat kerja, bahkan saat di luar kota, seringkali ia menelepon menanyakan keadaanku. Saat aku sakit, ia menjadi yang begitu perihatin dengan keadaanku. Dan dengan panggilan sayang yang sering ia ucapkan, aku menjadi begitu bahagia. Aku merasa, bahwa kehadiranku di dunia ini, keberadaanku di tengah-tengah mereka menjadi semakin berharga.
Istriku juga akan sangat bahagia saat aneka masakan dan kue yang dibuatnya lahap kami nikmati. Ia juga begitu senang saat dapat berbagi dengan para tetangga. Ia selalu mendukung setiap kebaikan yang aku lakukan. Ia pun tak pernah memberatkanku dengan segala macam tuntutan yang sulit aku penuhi. Ia lebih tenang dan senang saat berkumpul bersama kami di dalam rumah, daripada berkeliling di mal-mal atau tempat hiburan dan rekreasi.
Bahkan, saat kami kesulitan keuangan, ia tidak jarang harus menjual perhiasan yang dipakainya secara diam-diam. Menyadari segala kebaikan yang dipersembahkannya kepadaku, aku merasa sangat miskin kebaikan.
Aku merasa berutang budi begitu banyak terhadapnya. Sepertinya apa yang selama ini aku berikan sangat tidak sebanding dengan segenap kebaikan yang ia persembahkan. Dan aku menjadi semakin terharu, saat menawarkan sedikit kemewahan, tapi ia menolak dan lebih memilih hidup apa adanya.
Saat aku memberi sesuatu yang membahagiakannya, tak lupa ucapan terima kasih dan doa mengalir dari bibirnya. Ini semakin memacu semangatku untuk mengimbangi segala kebaikannya dengan mempersembahkan kebahagiaan untuknya.
Anak-anakku begitu bahagia saat berada di dekatnya. Kami merasa begitu sedih dan kehilangan saat ia marah karena sikap atau perkataan kami yang tak berkenan di hatinya. Dan aku menjadi semakin terharu, saat ia mengatakan tak berkeberatan untuk mencarikanku istri lagi. ‘Bagaimana mungkin aku membutuhkan wanita lain kalau kamu adalah wanita terbaik yang aku miliki? Apalagi yang aku cari dari seorang wanita?’
Sejujurnya kuakui, setelah Allah dan Rasul-Nya, ia adalah sumber kebahagiaan kami. Tapi saat aku mengakui dengan sejujurnya akan hal itu kepadanya, ia hanya tertawa dan menganggapnya hanya rayuan belaka. Wahai sayangku, semoga Allah membalas semua kebaikanmu dengan surga-Nya yang terindah. Engkau adalah bidadari yang Allah karuniakan padaku di dunia……..”
Dari Suamimu yang tercinta
(Di nukil dari buku “Menjadi Bidadari Cantik ala Islam”, oleh Ummu Ahmad Rifqi –istri dari Ust. Zaenal Abidin bin Syamsudin Lc. Penerbit Pustaka Imam Abu Hanifah, Cetakan pertama, Maret 2009)
Ah, saya masih terlalu jauh dari sesosok istri sholehah yang digambarkan di atas. Saya masih sering tidak bersyukur atas pemberian dari suami saya, saya masih suka membantah dan mengabaikan perintah suami saya yg sebenernya untuk kebaikan saya sendiri, saya masih suka menuntut macem2 kepada suami saya, saya masih suka egois terhadap suami saya, saya masih suka merasa kurang dengan suami saya, saya masih suka merengek seperti anak kecil meminta belikan ini-itu, merengut minta jalan-jalan, saya masih suka mengabaikan kewajiban saya sebagai istri, saya masih suka meninggalkan suami saya untuk kesenangan diri saya sendiri…..
Betapa saya masih sangat banyak kekurangannya sebagai seorang istri, jauh dari istri yg baik dan ideal….
Ah, betapa malunya saya pada suami saya , terlebih pada diri saya sendiri, maluuuuuuuuu bgt…!!!!
Padahal sudah begitu banyak hal yang diberikan suami saya untuk saya…
sgala pengorbanan, materi, waktu, canda-tawa, nasehat, sagalanyaaaaa……
Maafkan saya, ya zaujiy jikalau saya masih belum bisa menjadi bidadari untukmu…
Tapi percayalah, saya kan slalu berusaha melakukan yang terbaik dan menjadi yang terbaik untukmu……….
Anna Uhibbuka Fillah ya Zaujiy…. =)
*special 4 my Lovely husband in our 1st anniversary, 20022011
KaTa MeReKa...