Sajak “Gitu aja koq repot”


Hidup ini kadang bukan soal bahagia atau tidak bahagia.
Bukan juga soal suka atau tidak suka.
Bukan juga soal untung atau rugi.Bukan tentang nilai bagus atau jelek
Wajah cakep atau buruk rupa
Apalagi sukses atau gagal. 

Hidup ini kadang simpel tentang perjalanan saja.
Dijalani dengan baik, 
Dinikmati setiap detik berlalunya
Hanya seperti itu
Tanpa kepentingan tersembunyi
Tanpa ambisi berlebihan
Tanpa dusta dan kebencian 

Kita hanya numpang lewat
Toh, enjoy atau tidak, tetap tamat
Maka mari nikmati perjalanannya
Sapa teman seperjalanan
Tertawa riang, bersenda gurau
Sambil terus melakukan hal2 baik  

Gitu saja kok repot 🙂

–Tereliye

Sajak “Jangan”


Jangan menghukum masa depan dengan masa lalu
Karena kita selalu bisa memperbaiki situasi 

Jangan menghukum kesempatan dengan penantian
Karena terkadang melepaskan sesuatu justeru memperoleh yang terbaik 

Jangan menghukum waktu terbaik dengan keterlambatan
Karena dalam urusan perasaan, tidak ada yang tahu kapan dan di mana tibanya  

Dan jangan menghukum kebersamaan dengan kesendirian
Karena, aduhai, kita tidak memutuskan bersama hanya karena bosan sendiri 

Pun jangan menghukum diri sendiri dengan pertanyaan2 orang lainKarena kita tidak menjalani kehidupan orang lain
Dan orang lain tidak menjalani kehidupan kita 

*Tere Liye

Sajak “Kadang kita lupa”


Kadang kita lupa
Ketika seseorang hadir dalam hidup kita, 
Bukan berarti dia akan selalu bersama kita

Kadang kita lupa,
Boleh jadi tujuan terbesarnya adalah agar kita belajar
Dari hal menyakitkan dan menyenangkan
Saat dia telah pergi kemudian 

Ketika sebuah masalah melingkupi kita
Bukan berarti kita bisa mengatasinya segera,
Seperti minum obat langsung cespleng

Kadang kita lupa,
Boleh jadi tujuan terbesarnya adalah agar kita bersabar
Menjadi lebih kuat dan kokoh
Untuk menghadapi masalah lebih besar lagi 

Banyak sesuatu yang terlihat
Tapi sejatinya bukan demikian kelihatannya
Seringkali sesuatu yang kita pahami
Namun sesungguhnya tidak begitu hakikatnya 

Misalnya,Jatuh cinta itu kadang memang mudah
Tapi menjaganya abadi adalah sejatinya
Cinta pertama itu memang indah 
Namun cinta terakhir selama-lamanya adalah hakikatnya 

Semoga kita tidak melupakan yang satu ini.

–Tereliye

Sajak “Kau harus tahu”


Kau harus tahu,
Sebongkah berlian tidak akan berkurang nilainya, 
Meski ditemukan oleh orang yang tidak tahu betapa berharganya
Lantas dibuang begitu saja
Orang itu akan menyesal panjang  

Maka,Kau juga harus tahu
Seseorang yang amat berharga tidak akan berkurang nilainya
Meski disia-siakan oleh orang yang tidak pantas baginya
Lantas kemudian ditinggalkan begitu saja
Orang itulah yang akan menyesal panjang

–Tereliye

Melupakan


Ketika kita mencoba melupakan kejadian menyakitkan, melupakan orang yg membuat rasa sakit itu, maka sesungguhnya kita sedang berusaha menghindari kenyataan tersebut. Lari. Pun sama, ketika kita ingin melupakan orang yg pernah kita sayangi, hal2 indah yang telah berlalu. Maka, sejatinya kita sedang berusaha lari dari kenangan atau sisa kenyataan tsb.

Kabar buruk buat kita semua, mekanisme menyebalkan justeru terjadi saat kita berusaha lari menghindar, ingatan tersebut malah memerangkap diri sendiri.
Diteriaki disuruh pergi, dia justeru mengambang di atas kepala. Dilempar jauh2, dia bagai bumerang kembali menghujam deras. Semakin kuat kita ingin melupakan, malah semakin erat buhul ikatannya.

Bagaimana mengatasinya?

Justeru resep terbaiknya adalah kebalikannya. Logika terbalik.
Apa itu? Mulailah dengan perasaan tenteram terhadap diri sendiri. Berdamai. Jangan lari dari kenangan tersebut. Biarkan saja dia hadir, bila perlu peluk erat.
Terima dengan senang hati. Bilang ke diri sendiri: “Sy punya masa lalu seperti ini, pernah dekat dengan orang menyakitkan itu, sy terima semua kenyataan tersebut. Akan saya ingat dengan lega, karena sy tahu, besok lusa sy bisa jadi lebih baik–dan semua orang berhak atas kesempatan memperbaiki diri.”
Letakkan kenangan tsb dalam posisi terbaiknya.

Maka, mekanisme menakjubkan akan terjadi. Perlahan tapi pasti, kita justeru berhasil mengenyahkan ingatan itu. Pelan tapi pasti, kenangan tersebut justeru menjadi tidak penting, biasa-biasa saja. Dan semakin kita terbiasa, levelnya sama dengan seperti kenangan kita pernah beli bakso depan rumah, hanyut dibawa oleh hal2 baru yg lebih seru. Ketahuilah, racun paling mematikan sekalipun, saat dibiasakan, setetes demi setetes dimasukkan dalam tubuh, dengan dosis yang tepat, besok lusa jika kita tdk semaput oleh racun tsb, kita justeru akan jadi kebal. Apalagi kenangan, jelas bisa dibiasakan.

Itulah hakikat dari: jika kalian ingin melupakan sesuatu atau seseorang, maka justeru dengan mengingatnya. Terima seluruh ingatan itu.

*Tere Liye

Sajak “Melepaskan”


Dalam banyak kesempatan
Kita bisa memutuskan bertarung habis-habisan
Menggunakan segala upaya
Untuk memiliki sesuatu yang amat berharga
Menggenggamnya penuh keyakinan
Bahwa itu layak diperjuangkan 
Sungguh butuh seluruh kekuatan untuk melakukan hal ini.

Tetapi
Kadangkala kita lupa sebuah nasehat lama
Ada sesuatu yang justeru membutuhkan kekuatan lebih besar untuk dilakukan
Yaitu: melepaskan pergi apa yang telah kita perjuangkan habis2an
Karena kita tahu, sesuatu itu boleh jadi lebih baik jika dilepaskan
Lebih bahagia dan lebih cemerlang besok lusa
Karena saat ini belum pantas, atapun tidak siap
Semoga kelak akan kembali dengan sendirinya

Sungguh, yang satu ini membutuhkan kekuatan lebih besar
Dibandingkan sekadar memperjuangkannya

–Tereliye

Saya kira begitu


Saya kira, burung tak punya rasa sedih,
Karena nampaknya, mereka selalu bisa terbang,
Kapanpun mereka mau

Saya kira, ikan tak punya rasa sesal,
Karena nampaknya, mereka selalu bisa berenang,
Kapanpun mereka ingin

Karena manusia,
Kadang saat sedih, sering saat sesal
Mereka jadi berhenti makan, berhenti mandi,
Bahkan berhenti berpikir sebagai manusia

Aih, saya kira, cacing juga tak punya rasa sesak
Karena nampaknya, mereka selalu bisa menggali tanah
Kapanpun mereka maju

Juga ayam jago, tak punya rasa kecewa
Karena nampaknya, setiap pagi dia selalu berkokok
Kapanpun, hari apapun, mau apapun

Karena manusia,
Kadang saat sesak, sering saat kecewa
Mereka jadi berhenti maju, nggak move on, malas bangun pagi
Bahkan kepengin hari menjadi berhenti baginya
Atau malah berharap otaknya dilumpuhkan agar lupa

Mungkin begitu
Mungkin juga tidak demikian

-Tereliye