Hukum Sebab-Akibat


Entah kenapa saya tipe orang yg gampang skali terpancing ketika mendengarkan cerita, menonton film, ataupun membaca novel. Saya akan dgn mudah terbawa alur cerita dgn sgala emosi yg dituangkan dlm cerita tersebut.Terakhir, saya membaca novel-nya Tere-liye dg judul Rembulan Tenggelam di Wajahmu (Highly recommended-red). Ada kutipan yg sangat menarik dari novel tersebut:

“Kita bisa menukar banyak hal menyakitkan yang dilakukan orang lain dengan sesuatu yang lebih hakiki, lebih abadi. Rasa sakit yang timbul karena perbuatan aniaya dan menyakitkan itu, sementara. Pemahaman dan penerimaan yang tulus dari kejadian menyakitkan itulah yang abadi.”

Sepanjang saya membaca cerita novel ini. Saya selalu melakukan proyeksi dan intropeksi dari cerita tersebut ke dalam kehidupan nyata saya. Betapa saya pernah menjadi tokoh utama dalam novel tersebut. Yah, saya pernah merasakan sakit yang teramat-sangat, sampai saya merasa hidup ini tidak adil untuk saya. Saya pernah merasa hancur, sehancur-hancurnya sampai-sampai saya berani menyalahkan takdir saya. Saya pernah bgitu membenci dan mengutuk orang2 yg menghancurkan kebahagian saya. Dan saya pernah memiliki beribu tanya kepada Allah tentang hidup saya, yg terus berputar-putar di pikiran saya, seribu tanya yang saya tak pernah tahu apa jawabannya, pun sampai sekarang.Dan sampai pada pertengahan cerita novel ini, saya pun mengerti, memahami, menerima, dan membenarkan pernyataan yang merupakan kiutipan dalam novel tersebut:

“Bagi manusia, hidup ini sebab-akibat. Bedanya, bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis hidup orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian entah pada siklus yang ke berapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu. Saling mempengaruhi, saling berinteraksi. Sungguh kalau dilukiskan peta itu, maka ia bagai bola raksasa dengan benang jutaan warna yang salit melilit, saling menjalin, lingkar-melingkar. Indah. Sungguh indah. Sama sekali tidak rumit.”

Sehingga saya menyadari bahwa segala hal yang pernah saya alami, khususnya rasa sakit di masa lalu, merupakan akibat yang harus saya rasakan dari tindakan menyakitkan yang pernah saya lakukan kepada orang lain.Dan sgala hal yang saya lakukan di masa lalu, sekarang, esok hari, dan seterusnya akan menjadi sebab yang akibatnya akan kembali lagi kepada saya, walau saya takkan pernah tahu potongan kisah dari sebab yang mana yang akan berakibat pada kehidupan saya.Pada akhirnya, saya memang harus memahami dan menerima dengan tulus dari sgala hal menyakitkan yang pernah saya alami. Bukan untuk orang lain, tapi untuk saya sendiri.

“Hampir semua orang pernah kehilangan sesuatu yang berharga miliknya, amat berharga malah. Dalam ukuran tertentu kehilangan yang kau alami mungkin jauh lebih menyakitkan. Tetapi kita tidak sedang membicarakan ukuran relatif lebih atau kurang. Semua kehilangan itu menyakitkan.Apapun bentuk kehilangan itu, ketahuilah, cara terbaik untuk memahaminya adalah selalu dari sisi yang pergi. Bukan sisi yang ditinggalkan.Kalau kau memaksakan diri memahaminya dari sisimu, maka kau akan mengutuk Tuhan, hanya mengembalikan kenangan masa-masa gelap itu.Bertanya, apakah belum cukup penderitaan yang kau alami. Bertanya, mengapa Tuhan tega mengambil kebahagiaan orang-orang baik, dan sebaliknya memudahkan jalan bagi orang-orang jahat.Kau tidak akan pernah menemukan jawabannya, karena kau dari sisi yang ditinggalkan. Sehinnga kau tidak akan pernah bisa berdamai dengan perasaan kehilanganmu”

Life must go on. Hidup akan terus berjalan.

Maka, berdamailah dengan masa lalu, maafkan, lupakan. Bagi saya, tetap ada yg harus disesali, kesalahan yg pernah saya lakukan di masa lalu, yang selanjutnya menjadi pembelajarn buat saya di masa depan untuk tidak lagi mengulanginya. Jalan memandang ke depan, sesekali menengok ke belakang. Untuk kemudian memilih arah hidup yang akan kita tempuh… =)

“Kalian mungkin memiliki masa lalu yang buruk, tapi kalian memiliki kepal tangan untuk merubahnya. Kepal tangan yang akan menentukan sendiri nasib kalian hari ini, kepal tangan yang akan melukis sendiri masa depan kalian”

 

-SEKIAN-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s