Akulah Si Tukang Pamer: Fenomena Jejaring Sosial


Kali ini pengen nulis agak sedikit berbobot, tentang jejaring sosial #tsaaahhh😀

Ehm..ehm *benerinjilbab*

Di era modern sekarang ini dengan semakin berkembangnya hi-tech dan segala kecanggihannya melalui beraneka ragam gadget-gadget yang ditawarkan, jejaring sosial menjadi candu bagi seluruh lapisan masyarakat, dari anak kecil-Remaja-Dewasa-Orangtua-bahkan mungkin Lansia dengan berbagai latar belakang pendidikan, ekonomi, dan pekerjaan.

Aplikasi jejaring sosial pun semakin merebak dari mulai friendster (tua banget yak? :D), facebook, twitter, google+, etc. Dengan semakin banyaknya jejaring sosial yang didukung oleh teknologi yg canggih, membuat tiap orang per orang semakin eksis di dunia maya dengan slogan:

“mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat”

Sebenernya dalam tulisan ini saya ingin lebih menyoroti dampak buruknya jejaring sosial tersebut, walaupun tak dapat dipungkiri ada juga manfaat dari penggunaan jejaring sosial ini. Kita sendiri yang menentukan mau dibawa kemana hubungan ini (eh salah :p) maksudnya kita sendiri yang menentukan pilihan dari dampak tersebut.

(oke cukup kalimat pendahuluannya :D)

Tulisan ini saya buat berdasarkan hasil pengamatan dari akun jejaring sosial milik saya sendiri, jadi sampelnya adalah teman-teman saya sendiri (kalo dari segi keilmuan, sampelnya pasti bias artinya tidak dapat mewakili seluruh populasi pengguna jejaring sosial #tsaaahhh gaya, heuheu :D) Tapi kita asumsi kan saja, sampelnya mewakili rata-rata populasi *sok intelek*

Sejujurnya, yang ingin saya sampaikan adalah uneg-uneg dan kritik dari saya sebagai konsumen jejaring sosial yang selanjutnya semoga dapat menjadi bahan intropeksi bagi saya sendiri dan bagi para pengguna jejaring sosial.

Jadi begini, saya pribadi merasa bahwa jejaring sosial ini hampir sebagian besar digunakan sebagai ajang pamer   (ya ga? ya kan? ya dong? yang ngerasa ngaku!!) , baik disadari (maksudnya emang sengaja gituuu) atau tidak disadari, antara lain:

1. Pamer Wajah

Ini udah pasti karena hampir semua aplikasi jejaring sosial mengharuskan kita untuk mengunggah foto profil. Untuk para wanita dan pria sudah barang pasti akan berlomba-lomba memasang foto terbaik mereka untuk dipajang, dengan berbagai pose, berbagai latar, berbagai ekspresi.

2. Pamer Harta

Hal ini dapat dilihat dari status-status mereka di jejaring sosial, contoh: “haduh BB gue lagi rusak nih, untung masih ada Iphone gue” atau “Horeeee akhirnya punya IPAD 3 juga” atau “Si Jazzy lagi di bengkel nih untung MerC bokap ga kepake”  bisa juga dari status, album-album foto atau aplikasi check-in yg diberi nama sesuai dengan tempat, kota atau negara yg pernah dikunjungi, contoh: “bingung nih mau ngabisin duit, besok mau ke Newyork aaahh” atau “tas gue udah butut , weekend ini ajak nyokap ke london ah beli tas harrods” . “check-in @American Grill lunch bareng klien”  atau “check-in @hotel Marriot meeting”. Bahkan tanpa disengaja bisa dilihat dari gadget apa yang dipakai ketika mengupdate status (terlihat simbol-nya via apa)

3. Pamer Prestasi

Hal ini bisa dilihat juga dari status dan juga album yang diunduhnya sesuai dengan prestasi yang telah dicapainya. Prestasi disini   dapat berupa tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, jabatan, dan kekuasaan. Contoh: “Alhamdulillaaahhh keterima juga di Harvard”  atau“Huaaaa ga sia2 belajar buat tes, lolos juga masuk BI”  atau “Duuuhh, nikmatnya hidup jadi DIRUT segala fasilitas dapet”  atau “belum tau aja siapa bokap gue, macem2 sama gue, gue aduin lo biar dipecat”

4. Pamer Kemesraan dan keharmonisan

Hal ini bisa dilihat dari status-status, wall to wall, dan mentionan mereka yang saling melontarkan ungkapan dan ucapan mesra ke pasangan mereka, didukung dengan album-album foto berdua dengan berbagai pose. contoh: “Makasih yah sayang udah nemenin aku tadi”  atau “Jadi terharu ngeliat pengorbanan kamu yg segitunya sama akuuuuhh, tenkyu beb luv u so much :* “  atau“Senangnya hari ini jalan2 sama hubbyku sayang” etc. Biasanya ini melanda hampir sebagian besar pasangan baru, entah baru pacaran, baru jadian, baru nikah, atau bahkan baru selingkuh.

Termasuk disini adalah pamer kehamilan dan pamer anak. Contoh: “Haduuuhh, udah 10 bulan tapi masih mual juga kalo makan” atau “terharu ngeliat suami rela2in nyari rujak ampe ujungkulon demi aku :’) “  atau “pinternya anakku baru 1 tahun udah bisa kayang”  dan juga album foto2 anak dengan berbagai ekspresi. Ini melanda bagi para ibu-ibu baru.

5. Pamer Kebaikan

Hal ini bisa dilihat dari status-status mereka, contoh: “Alhamdulillah hari ini bisa ngasih amal 1 juta ke pengemis” atau“Yes, target khatam quran 3x sehari bisa tercapai” atau “aku udah terlalu baik dan sabar banget sama dia” atau “gaji sebulan udah dialokasiin buat naik haji orang2 sekampung”“aku tuh orangnya baik hati, tidak sombong, dan gemar menabung”, etc

6. Pamer Ekspresi

 Untuk kasus ini bisa berupa ekspresi bahagia, sedih, marah, ceria, kesel, badmood-goodmod, galau, etc. Ada yang statusnya bahagiaaaaa mulu, contoh:“Senangnya ada mas2 baik hati ngasih tempat duduk”  atau “Denganmu, dunia terasa indah tanpa henti”. Ada yang statusnya sedih-merana terus, contoh:“lebih baik aku mati kelindes becak daripada ditinggalin sama kamu” . Ada yang galauuuuuu mulu, contoh: “Rasanya hatiku hampa tanpamu” . Ada yang ngeluuuuuhhh mulu bawaannya, contoh:“Sial, udah dibela-belain lari2an, naik ojek, trus jadi atapers bukannya nyampe  kantor malah pingsan gue kestetrum” . Ada yang isinya marah-marah, menghujat dan memaki-maki orang, dll, contoh: “heran deh nih orang disebelah gue badannya bau banget kayaq bantargebang” atau“dasar kebon binatang ga punya otak ngeludah sembarangan” etc )

Yap, itulah jenis-jenis kegiatan pamer via jejaring sosial menurut saya. Termasuk jenis pamer yang manakah kitaaaa? tanyalah pada hati kita…..

Dan tolong bagi yang suka pamer wajah, kasihanilah mereka yang memiliki tampang pas-pasaan dan seadanya, hargai perasaan mereka…

Bagi yang suka pamer harta, tolong hargailah mereka yang hidupnya miskin, serba kekurangan,  duit pas-pasan, makan seadanya, hargai perasaan mereka…

Bagi yang suka pamer prestasi, tolong hargailah mereka yang otaknya pas-pasan, ga bisa sekolah, ngelamar kerja ditolak mulu, jadi bawahan tertindas, hargailah perasaan mereka…

Bagi yang suka pamer kemesraan dan keharmonisan, plissss tolong kasihanilah mereka yang jomblo bahkan melajang seumur hidup,  hargailah mereka yang terpisah dari keluarganya, hargailah mereka yang tak kunjung hamil, keguguran berkali-kali, belum dikaruniai anak bahkan ditakdirkan tidak punya anak, hargailah perasaan mereka…

Bagi yang suka pamer kebaikan, hargailah amal kebaikan dan ibadahmu sendiri, biarlah hanya engkau dan Tuhan yang tau, itu sudah lebih dari cukup supaya tak menjadi sia-sia nantinya.

Bagi yang suka pamer ekspresi, hargailah sesuatu dengan bijak, hargailah perasaan orang lain di sekitar kita🙂

Kita tidak pernah benar-benar tahu isi hati dan keadaan teman-teman dan followers kita, jagalah perasaan mereka. Ketika kita pamer sesuatu bisa jadi tanpa disadari kita telah menyinggung dan menyakiti perasaan mereka. Terlebih ketika mereka punya penyakit hati seperti iri dan dengki, itu memang salah mereka, tapi kita menjadi lebih berdosa lagi kalo kita justru tambah ‘memanas-manasi’ mereka dengan sikap pamer kita.

“Jika tidak ingin dicubit, jangan mencubit. Jika ingin dihargai orang lain, makan hargailah orang lain”

Pada akhirnya semua tergantung dari niatan kita masing-masing, betul?

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk kita sebagai bahan renungan kita bersama🙂

Salam

piisss, loppphh, en gahuuuulll

nb: mohon maaf apabila terdapat kesamaan kata dan kalimat, ini semua murni rekayasa dan contoh yang dibuat sendiri oleh penulis. Percayalah contoh di atas tidak benar-benar persis ada di TL facebook atau twitter penulis😀

11 thoughts on “Akulah Si Tukang Pamer: Fenomena Jejaring Sosial

  1. hehehe deskripsinya menarik ri, tapi ya dengan banyak yang pamer kan kita bisa memacu diri jugaa, tergantung gimana memandangnya. Misalnya ada yang pamer harta “Ipad baru nih, masih gaptek makenya” – ya anggap aja gak lama lagi juga kita bisa punya. Kalo misalnya pamer wajah cakep, ya bukan salahnya juga si punya wajah cakep, nah kita yang pas-pas-an tampangnya paling gak bisa bersyukur bisa ngeliat wajah cakep hehehe….

    Nah kalo pamer prestasi, justru harusnya malah bisa ngebuat kita semakin semangat untuk mengejar cita kita. Temen kita yang bareng-bareng aja belajarnya bisa, masa kita enggak hehehehe….

    Intinya si gimana cara kita mandang sesuatu, every side has its edges😀

    • iya bener fa, memang pamer2x ini sebenernya bisa dipandang dari sisi yg berbeda, jika dan hanya jika kita bisa berpikir positif. Sayangnya ga semua orang, entah itu follower kita di twitter atau friend di fb, yang bisa melihat hal tersebut dari sisi yang positifnya. So, ada baiknya kita belajar empati dengan orang lain, karena kita ga pernah tau isi hati setiap orang. Bisa jadi sikap yg suka pamer justru selain bedampak negatif utk org lain, juga berdampak negatif bagi diri kita sendiri, contoh: membuat kita jadi dijauhi/dimusuhi/tidakdisukai temen2 kita karena sifat/sikap yg suka pamer ini. aku sih ngambil worst case aja, bukannya bersuudzon sama follower/temen2 di FB, cuma bersikap waspada dan hati2 itu alangkah lebih baiknya😉 Wallahua’lam

  2. mba Riri..tulisannya bagus bgt, gk bs d pungkiri emng buanyak bgt yg jd “tukang pamer” d jejaring sosial…mungkin dgn pamer mreka bs tenang & bhagia…hehehehe, smoga qt trhindar dr sifat itu y…mohon izin kutip tulisannya sdikit y, spy bs mengingatkn tmn2 sya yg lain…*ntar sya blang quote from riri_pinky* hehehehe…

  3. Yup.. Saya setuju bahwa pamer Itu tidak baik. Itu dampak Dari kesombongan.. Kita perlu ber empati thdp orang lain yg mungkin tidak seberuntung kita.. Klo kita menyadari apa yg kita punya bukanlah milik kita, saya percaya kita Akan berfikir ribuan x untuk pamer apapun.. Bersyukur, rendah hati Dan miliki Gaya hidup Sederhana Membuat orang lain mau membuka diri Dgn kita.. Sifat pamer sebalinya Membuat orang lain menjauh..kyk Jokowi loooh.. Biar kata pengusaha sukses, pejabat, Tapi rendah hati Dan Sederhana.. Disukai orang toh? :-)) Makasih ulasannya ya.. God bless!

  4. Halo, salam kenal. Numpang komentar ya😀

    Kebanyang nggak kalau akhirnya nggak ada satupun teman kita yang sharing apapun karena takut dibilang pamer? Apa yang bisa disharing klo semuanya dianggap pamer? Cuaca? Ntar dibilang pamer lagi sama yang cuacanya nggak seasyik itu😉 Klo kita nggak cocok sama updates ybs, tinggal unfriend, unfollow, atau hide. Mudah kan? hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s