Surat untuk Fika (Surat cinta untuk sang istri)


Dear Fika,

Apa kabarmu cantik? kuharap kau tak terkejut dengan datangnya surat ini. Aku akhirnya memutuskan untuk menulis surat ini untukmu. Entahlah, aku selalu merasa kau pasti bisa membaca suratku, meskipun aku tak begitu yakin apakah ada internet di surga. Tapi bukankah surga adalah tempat dimana semua keinginan bisa terwujud? Ah, sudahlah.. rasanya penyediaan akses internet bukanlah perkara besar untuk Tuhan kan?

Fika sayang,

Saat aku menulis surat ini, aku baru saja pulang kerja. Hmm.. tubuhku terasa letih dan semacam mau rontok, tapi ini tak menyurutkan niatku untuk menulis sepucuk surat cinta untukmu, perempuanku. Oh ya, Fik.. kamu tak perlu khawatir, karena sebelum menulis surat ini, aku sudah makan malam, jadi kau tak perlu pasang muka cemberut, sambil tiba-tiba mematikan laptopku, dan memaksaku untuk makan, seperti yang sering kau lakukan dulu.

Fik..

Semalam, tanpa sengaja aku menemukan rekaman video kita di ponselmu. Aku ingat, waktu itu kita sedang bercanda didalam mobil, sepanjang perjalanan pulang kantor. Aku baru sadar, kalau ternyata saat itu kau merekamnya, seolah-olah saat itu kau sudah tahu, bahwa kita tak lagi punya banyak waktu. Aku terus mengulang-ulang, bagian ketika aku bernyanyi keras dengan suaraku yang tak ramah lingkungan dan mirip kaleng rombeng, namun semua kekonyolanku itu, cukup untuk membuatmu tertawa terpingkal-pingkal sepanjang perjalanan. Aku terus dengarkan dengan seksama rekaman itu, bagaimana lekuk tawamu mengalun, semacam harmoni yang memberikan energi, semua itu sekejap saja membuatku tertegun tanpa sepatah kata, dan tak berapa lama, kusadari mataku sudah berkabut. Aku sungguh merindukanmu, Fik.

Kau tahu, Fik? aku selalu bergelut dengan rindu yang tak berkesudahan. Hal yang selalu tumbuh subur dan bersemi di dalam jiwaku, tapi sejujurnya, aku ternyata cukup bahagia dengan semua itu, akupun sama sekali tak keberatan, jika sekali waktu aku harus menyemai rindu-rindu itu di ladang hatiku. Bahkan aku merasa, rindulah yang selama ini menyatukan kita dalam angkuhnya jarak, begitupula luka, yang membawa kita sampai pada cinta.

Entah mengapa aku selalu berdebar setiap melihat namamu di surat ini. Belum lagi arsir wajahmu, yang seakan sudah membatu di kepalaku. Terkadang aku benci akan pagi, yang selalu memaksaku untuk menyaksikanmu yang tak ada. Sejujurnya, aku lebih suka malam, saat aku bisa sejenak terpejam, dan kembali menemukanmu disana. Kau muncul seperti jantung cahaya, yang berkilauan di atas samudera tenang tanpa gelombang. Ah, sebenarnya aku tak yakin dimana aku sedang hidup saat ini, yang aku tahu, saat ini aku sedang berada pada satu titik, dimana semua terlihat samar-samar, dan satu-satunya yang terlihat jelas adalah kau.

Fika-ku sayang,

Aku masih terus mengunjungi makam dan rumahmu di bogor setiap akhir pekan. Syukurlah, papa sehat-sehat selalu disana, meskipun rambutnya semakin terlihat memutih. Kami sering menghabiskan waktu berdua, sekedar menonton pertandingan sepak bola, ditemani sepiring bihun goreng buatannya. Ah, aku sungguh beruntung punya mertua seperti papamu, Fik. Dia pandai sekali memasak. Oh ya, kau tak perlu cemas soal ayahmu, karena aku pasti akan selalu menjaga orang tua kita, itu janjiku. Oh ya Fik, setiap aku bermalam di bogor, aku suka memandangi kamar kita, yang di sudutnya terdapat setumpuk kado pernikahan yang belum sempat kita buka satu-persatu. Setiap melihat itu, aku hanya mengucap dalam hati, betapa Tuhan terlalu tergesa-gesa.

Fika sayang,

Sebelum tidur, aku ingin mengecup keningmu lewat surat ini. Ayo, sekarang pejamkan matamu sebentar saja, karena aku akan tiba disana memelukmu erat. Selamat malam sayang, selamat tidur perempuanku, aku akan terus menghitung setiap detik yang berkurang, sampai kita dipertemukan kembali.

Suamimu,
Acho

Dan video ini melengkapi visualisasi cerita ini šŸ˜¦

Advertisements

Sajak pendek


*Sajak Berjanji
Berjanjilah kau akan setia.
Saat bosan maupunĀ senang.
Saat banyak pilihan maupun terpaksa.+++

*Sajak Masalah
Wahai masalah, dengarkan.
Aku tidak akan bosan padamu.
Entah bagaimana denganmu.+++

*Sajak Lupa
Lupa.
Dirimu. Padaku.
Tapi tidak diriku.
Padamu.+++

*Sajak Hujan
Hujan….
di luar sana…
juga di dalam hati…

–Tereliye


Tidak seperti papan tulis, coretannya bisa dihapus bersih.Ā Coretan di hati tidak bisa dihapus bersih. Bahkan saat kita benar-benar lupa, coretan itu tetap ada (di hati orang lain, dan atau banyak orang lain).

-Tere Liye


Siapa sih yang tidak pernah disakiti dalam hidup ini. Tapi itu bukan berarti kita harus membalasnya.Kalau memang harus membalas, maka tidak ada pembalasan lebih baik selain menjadi orang yang lebih baik dibandingkan orang2 yang menyakiti kita tersebut.

–Tere Liye

Tepi-tepi Kehidupan


Hidup adalah tepi-tepi pemahaman.
Yang saling bertolak belakang satu sama lain
Sentuh satu tepinya, maka ajaib sekali,
Kita akan memahami tepi satunya lagi

Tidak paham?

Hei, bukankah dengan melewati seluruh tepi kesedihan
Maka kita akan paham hakikat kebahagiaan

Lewatilah tepi kesendirian
Maka kita akan bersyukur atas kebersamaan

Laluilah tepi kefakiran
Maka kita akan mengerti memiliki

Cobalah untuk diam, hening
Maka kita akan lebih dewasa menyikapi keramaian

Rasakanlah tepi pengkhianatan
Maka kita akan paham hakikat kesetiaan

Alamilah sensasi tepi ditinggalkan
Maka kita akan mengerti definisi menunggu

Lewatilah tepi kebencian
Maka kita akan paham tentang kasih sayang

Hidup adalah tepi-tepi pemahaman.
Yang saling bertolak belakang satu sama lain
Sentuh satu tepinya, maka ajaib sekali,
Kita akan memahami tepi satunya lagi

–Tereliye


Urusan ini sebenarnya amat sederhana. Seseorang yang mencintaimu karena fisik, maka suatu hari ia juga akan pergi karena alasan fisik tersebut. Seseorang yang menyukaimu karena materi, maka suatu hari ia juga akan pergi karena materi. Tetapi seseorang yang mencintaimu karena hati, maka ia tidak akan pernah pergi! Karena hati tidak pernah mengajarkan tentang ukuran relatif lebih baik atau lebih buruk.

–Tere Liye


Bukan ketika diomeli, dimarahi, dicereweti yang menyakitkan. Itu sih tandanya orang lain masih sayang.

Yang lebih menyakitkan adalah: saat orang lain memutuskan sudah tidak peduli lagi. Ditegur tidak, disapa juga tidak, didiamkan saja. Dianggap tidak ada.

–Tere Liye